Minggu, 11 Juli 2021

cerita kehamilan keduaku

Hell-O! girls or mamas out there..

Jadi aku mau cerita tentang kehamilan keduaku, yang mungkin bukan menjadi cerita yang menyenangkan tapi semoga bisa menjadi insight tersendiri buat kalian para wanita..

Dari kehamilan kedua ku ini jelas bukan menjadi kehamilan yang indah, tapi akan terkenang buat aku dan menjadi pengingat untuk intropeksi tentang diri sendiri.. atau mungkin menghadapi kehamilan berikutnya.

Oke, jadi sebelum aku cerita terlalu dalam.. mungkin perlu diketahui sementara ini kondisi aku & suami sehat-sehat aja (secara fisik kita sehat, karna kita belum pernah check up tubuh lengkap, terutama masalah reproduksi ya). Selain itu, aku awalnya pakai KB suntik 3 bulan-an, dan sudah setahun ini aku menghentikan pemakaiaannya. Kalau ditanya kenapa berhenti?! Yaa gak ada alasannya, emang bodoh aja males suntik KB J

Pertama… jadi ketika lebaran 2021 aku baru sadar setelah puasa 1 bulan kok ngerasa belum “dapet” yaa, atau belum haid yaa. Seminggu setelah Hari Raya barulah aku coba test, dan hasilnya positif dong.

Langsung lah aku beri tahu suami, dan seperti dugaanku dia cuma ketawa sumringah senang padahal istrinya masih speechless. Tapi karna ini kehamilan kedua ku jadi aku lebih santai dan berencana ke dokter kandungan 2 minggu lagi aja untuk memastikan.

2 minggu kemudian… aku jadwalkan ke dokter kandungan untuk tangga 24 mei 2021 malam harinya, dan sorenya aku coba test lagi dan hasilnya masih positif (yaiyalah wkwk cuman utk memastikan ajasih).

Ketika di USG oleh dokter, ternyata belum kelihatan adanya kantong janin tapi memang ada penebalan dinding Rahim. Jadi kata dokter kemungkinan kalaupun aku hamil, usia kehamilannya belum genap 4 minggu dan aku pulang tanpa adanya kepastian tentang pasti tidaknya aku hamil, walaupun memang hasil test positif. Dokter kandungan menyarankan untuk check up lagi setelah 2 minggu, yang mana harusnya di usia kehamilan 6 minggu sudah terlihat kantung janin. (jadi bisa dilihat di foto USG diatas itu belum ada kantung nya gitu)

Sampai rumah mulailah muncul keraguan, karena dari hasil perkiraan kehamilanku via apps harusnya sudah 6 minggu kehamilan, karena HPHT ku kurang lebih ditanggal 7/8 april. Tapi aku mencoba optimis karena ya namanya apps, kan hanya perkiraan berdasarkan teori nya saja.

Kedua… tepat tanggal 1 juni 2021, tiba-tiba mulai muncul flek (maaf) kecoklatan dan setelah aku browsing itu sangat wajar dikehamilan trimester awal. Sebenernya agak panik sih karena dikehamilan pertamaku Alhamdulillah gak ada nge flek sama sekali. But its okay, kuncinya emang bed rest dan istirahat. Walau buat aku bed rest itu adalah hal yang gak memungkinkan, karena aku ‘momong’ zaara sendirian dirumah dengan segala keriwehannya. Tapi aku coba untuk mengurangi aktivitas berat dan sejak hari itu aku gak naik ke lantai 2 sama sekali tuh. Flek it uterus keluar sampai jadwal pemeriksaan kedua ku ke dokter.

Ketiga… jadwal periksa keduaku di tanggal 8 juni 2021.

Ketika di USG oleh dokter kandungan, Alhamdulillah mulai terlihat kantong janin dengan ukuran 12 mm/ 1,2 cm (seperti di foto USG dibawah) yang mana menurut dokter itu normal untuk usia kandungan 6 minggu dan sesuai target dokter bahwa di minggu ke-6 kantung janin itu sudah kelihatan. Dokter ku juga menjadwalkan untuk check up 2 minggu lagi yang mana seharusnya mulai terlihat titik janinnya.


Dan konsul lah aku, bahwa sejak tanggal 1 juni kemarin aku nge-flek dan ini hamper seminggu dok. Saat itu dokter tenang aja selama flek nya masih berwarna kecoklatan dan aku diberi obat penguat kandungan dan diminta untuk bed rest. Okay aku mencoba tenang…

Tapi flek ini tuh terus keluar sampai resep obat penguat untuk 10 hari itu habis dan aku udah mulai panic, aku jadwalkan pemeriksaan ketiga ku ke dokter.

Keempat… jadwal periksa ketigaku di tanggal 17 juni 2021

Hasil USG minggu ini ternyata, sesuai kekhawatiran aku bahwa emang ada ‘something wrong’ dengan kehamilan kali ini. Dari hasil USG kantung janinku malah mengecil jadi 10 mm dan tetap tidak terlihat adanya titik janin (foto USG dibawah kantungnya kelihatan lebih kecil). Saat itulah dokter baru bisa memutuskan bahwa kehamilanku ini termasuk kehamilan Blighted Ovum (BO), sesuai dengan kekhawatiranku dari hasil browsing mbah gugle :’)

Walaupun sempat aku kepikiran tentang hamil anggur, hamil ektopik dll dan ternyata kehamilanku ini Blighted Ovum atau kehamilan tanpa janin. Yaa jadi kehamilan ini kosong, gak ada isinya gitu mungkin lebih sederhananya. Untuk lebih lanjut penjelasannya bisa gugle sendiri yaa, dan kalau ditanya kenapa bisa?! Kata dokter ini ada kesalahan gen dari awal kehamilan, jadi bukan karena kurang nutrisi selama kehamilan atau gimana.

Terus solusinya gimana? Dari hasil pemeriksaan ketiga tadi dokter udah gak memberi obat penguat dengan harapan akan terjadi keguguran alami. Karena umumnya kehamilan BO akan gugur sendiri diminggu ke 8-12, aku hanya dianjurkan minum penambah darah. Walaupun ada opsi kedua untuk melakukan kuretase tapi saat itu aku masih ragu sih jadi aku memilih menunggu keguguran alami aja.

Pendarahan itu terus terjadi sampai minggu akhir juni aku sempet capek dan lemes, karna pendarahannya gak menunjukkan berkurang atau tanda-tanda berhenti dan aku memutuskan ke dokter lagi untuk check up apa sudah bersih atau belum.

Kelima… jadwal pemeriksaan keempat

Hasil USG menunjukkan kantung janin itu sudah tidak ada atau meluruh, tapi masih ada penebalan dinding Rahim. Dan karena aku sudah mulai lelah karena pendarahannya sudah 1 bulan lebih, dokter memberi obat penghenti pendarahan dan kalau masih belum selesai juga terpaksa harus di kuretase.

Tepat setelah pulang dari periksa semacam ada yang keluar dari ‘tempatnya’ dan yaa mungkin ini yang seharusnya keluar dari dulu :’)

Selama 3 hari berturut-turut keluar terus semacam jaringan menggumpal itu sebesar jahe, diiringi keluar pendarahan seperti menstruasi pada umumnya. Setelah obat resep dokter itu habis, tepat tanggal 5 juli kemarin berhenti juga pendarahan sebulan yang cukup melelahkan bagi saya.

Sampai hari saya berbagi cerita ini, saya masih dalam tahap recovery fisik dan terutama mental. tapi saya percaya Tuhan lebih mengetahui yang terbaik untuk saya.. kenapa?

Karena sejujurnya dikehamilan kedua ini, aku juga belum siap secara mental untuk mengasuh anak lagi dan belum menyelesaikan pendidikan magister (yang entah sampai kapan hehe). Disisi lain suami mah seneng aja diberi momongan baru dan dia juga masih belum percaya kalau terpaksa kehilangan calon adeknya zaara. Tapi sejauh ini kita mencoba berpikir positif, bahwa ini jalan terbaik dari Tuhan dan juga teguran untuk memperbaiki diri atau terutama pola makan kami. Mungkin terlalu panjang cerita yang aku bagikan, tapi semoga kalian dapat ‘moral of the story’ untuk tetap berpikir positif atas semua kuasa Tuhan.

Untuk para pembaca yang sedang dalam masa kehamilan, jangan takut setelah membaca ceritaku yaa karena kalau selama periksa baik” aja insyaAllah juga akan baik’ saja karna BO biasanya sudah bisa diketahui di trimester awal.

Untuk para pejuang garis dua, teruslah berusaha dan pasrahkan pada Tuhan.. semoga kalian segera mendapat berita bahagia!

 

NB: selama kehamilan kedua ku, aku konsul dengan

Dr. Putra Husada, Sp.OG di melati husada (dokter yang sama sejak kehamilan pertama)

Dan dr. Emma Enggar S. (sahabatku yg setia menerima keluhan labilku)