Hell-O! girls or mamas out there..
Jadi aku mau cerita tentang kehamilan keduaku, yang mungkin
bukan menjadi cerita yang menyenangkan tapi semoga bisa menjadi insight
tersendiri buat kalian para wanita..
Dari kehamilan kedua ku ini jelas bukan menjadi kehamilan
yang indah, tapi akan terkenang buat aku dan menjadi pengingat untuk intropeksi tentang diri sendiri.. atau mungkin menghadapi kehamilan berikutnya.
Oke, jadi sebelum aku cerita terlalu dalam.. mungkin perlu
diketahui sementara ini kondisi aku & suami sehat-sehat aja (secara fisik
kita sehat, karna kita belum pernah check up tubuh lengkap, terutama masalah
reproduksi ya). Selain itu, aku awalnya pakai KB suntik 3 bulan-an, dan
sudah setahun ini aku menghentikan pemakaiaannya. Kalau ditanya kenapa
berhenti?! Yaa gak ada alasannya, emang bodoh aja males suntik KB J
Pertama… jadi ketika lebaran 2021 aku baru sadar setelah puasa
1 bulan kok ngerasa belum “dapet” yaa, atau belum haid yaa. Seminggu setelah
Hari Raya barulah aku coba test, dan hasilnya positif dong.
Langsung lah aku beri tahu suami, dan seperti dugaanku dia
cuma ketawa sumringah senang padahal istrinya masih speechless. Tapi karna ini
kehamilan kedua ku jadi aku lebih santai dan berencana ke dokter kandungan 2
minggu lagi aja untuk memastikan.
2 minggu kemudian… aku jadwalkan ke dokter kandungan untuk
tangga 24 mei 2021 malam harinya, dan sorenya aku coba test lagi dan hasilnya
masih positif (yaiyalah wkwk cuman utk memastikan ajasih).
Ketika di USG oleh dokter, ternyata belum kelihatan adanya
kantong janin tapi memang ada penebalan dinding Rahim. Jadi kata dokter
kemungkinan kalaupun aku hamil, usia kehamilannya belum genap 4 minggu dan aku
pulang tanpa adanya kepastian tentang pasti tidaknya aku hamil, walaupun memang
hasil test positif. Dokter kandungan menyarankan untuk check up lagi setelah 2
minggu, yang mana harusnya di usia kehamilan 6 minggu sudah terlihat kantung
janin. (jadi bisa dilihat di foto USG diatas itu belum ada kantung nya gitu)
Sampai rumah mulailah muncul keraguan, karena dari hasil
perkiraan kehamilanku via apps harusnya sudah 6 minggu kehamilan, karena HPHT
ku kurang lebih ditanggal 7/8 april. Tapi aku mencoba optimis karena ya namanya
apps, kan hanya perkiraan berdasarkan teori nya saja.
Kedua… tepat tanggal 1 juni 2021, tiba-tiba mulai muncul
flek (maaf) kecoklatan dan setelah aku browsing itu sangat wajar dikehamilan
trimester awal. Sebenernya agak panik sih karena dikehamilan pertamaku
Alhamdulillah gak ada nge flek sama sekali. But its okay, kuncinya emang bed
rest dan istirahat. Walau buat aku bed rest itu adalah hal yang gak
memungkinkan, karena aku ‘momong’ zaara sendirian dirumah dengan segala
keriwehannya. Tapi aku coba untuk mengurangi aktivitas berat dan sejak hari itu
aku gak naik ke lantai 2 sama sekali tuh. Flek it uterus keluar sampai jadwal
pemeriksaan kedua ku ke dokter.
Ketiga… jadwal periksa keduaku di tanggal 8 juni 2021.
Ketika di USG oleh dokter kandungan, Alhamdulillah mulai
terlihat kantong janin dengan ukuran 12 mm/ 1,2 cm (seperti di foto USG dibawah) yang mana menurut dokter itu
normal untuk usia kandungan 6 minggu dan sesuai target dokter bahwa di minggu
ke-6 kantung janin itu sudah kelihatan. Dokter ku juga menjadwalkan untuk check
up 2 minggu lagi yang mana seharusnya mulai terlihat titik janinnya.
Dan konsul lah aku, bahwa sejak tanggal 1 juni kemarin aku
nge-flek dan ini hamper seminggu dok. Saat itu dokter tenang aja selama flek
nya masih berwarna kecoklatan dan aku diberi obat penguat kandungan dan diminta
untuk bed rest. Okay aku mencoba tenang…
Tapi flek ini tuh terus keluar sampai resep obat penguat
untuk 10 hari itu habis dan aku udah mulai panic, aku jadwalkan pemeriksaan
ketiga ku ke dokter.
Keempat… jadwal periksa ketigaku di tanggal 17 juni 2021
Hasil USG minggu ini ternyata, sesuai kekhawatiran aku bahwa
emang ada ‘something wrong’ dengan kehamilan kali ini. Dari hasil USG kantung
janinku malah mengecil jadi 10 mm dan tetap tidak terlihat adanya titik janin (foto USG dibawah kantungnya kelihatan lebih kecil).
Saat itulah dokter baru bisa memutuskan bahwa kehamilanku ini termasuk
kehamilan Blighted Ovum (BO), sesuai dengan kekhawatiranku dari hasil browsing
mbah gugle :’)
Walaupun sempat aku kepikiran tentang hamil anggur, hamil
ektopik dll dan ternyata kehamilanku ini Blighted Ovum atau kehamilan tanpa
janin. Yaa jadi kehamilan ini kosong, gak ada isinya gitu mungkin lebih
sederhananya. Untuk lebih lanjut penjelasannya bisa gugle sendiri yaa, dan
kalau ditanya kenapa bisa?! Kata dokter ini ada kesalahan gen dari awal
kehamilan, jadi bukan karena kurang nutrisi selama kehamilan atau gimana.
Terus solusinya gimana? Dari hasil pemeriksaan ketiga tadi
dokter udah gak memberi obat penguat dengan harapan akan terjadi keguguran
alami. Karena umumnya kehamilan BO akan gugur sendiri diminggu ke 8-12, aku
hanya dianjurkan minum penambah darah. Walaupun ada opsi kedua untuk melakukan
kuretase tapi saat itu aku masih ragu sih jadi aku memilih menunggu keguguran
alami aja.
Pendarahan itu terus terjadi sampai minggu akhir juni aku
sempet capek dan lemes, karna pendarahannya gak menunjukkan berkurang atau
tanda-tanda berhenti dan aku memutuskan ke dokter lagi untuk check up apa sudah
bersih atau belum.
Kelima… jadwal pemeriksaan keempat
Hasil USG menunjukkan kantung janin itu sudah tidak ada atau
meluruh, tapi masih ada penebalan dinding Rahim. Dan karena aku sudah mulai
lelah karena pendarahannya sudah 1 bulan lebih, dokter memberi obat penghenti
pendarahan dan kalau masih belum selesai juga terpaksa harus di kuretase.
Tepat setelah pulang dari periksa semacam ada yang keluar dari
‘tempatnya’ dan yaa mungkin ini yang seharusnya keluar dari dulu :’)
Selama 3 hari berturut-turut keluar terus semacam jaringan
menggumpal itu sebesar jahe, diiringi keluar pendarahan seperti menstruasi pada
umumnya. Setelah obat resep dokter itu habis, tepat tanggal 5 juli kemarin
berhenti juga pendarahan sebulan yang cukup melelahkan bagi saya.
Sampai hari saya berbagi cerita ini, saya masih dalam tahap
recovery fisik dan terutama mental. tapi saya percaya Tuhan lebih mengetahui
yang terbaik untuk saya.. kenapa?
Karena sejujurnya dikehamilan kedua ini, aku juga belum siap
secara mental untuk mengasuh anak lagi dan belum menyelesaikan pendidikan
magister (yang entah sampai kapan hehe). Disisi lain suami mah seneng aja
diberi momongan baru dan dia juga masih belum percaya kalau terpaksa kehilangan
calon adeknya zaara. Tapi sejauh ini kita mencoba berpikir positif, bahwa ini
jalan terbaik dari Tuhan dan juga teguran untuk memperbaiki diri atau terutama
pola makan kami. Mungkin terlalu panjang cerita yang aku bagikan, tapi semoga
kalian dapat ‘moral of the story’ untuk tetap berpikir positif atas semua kuasa
Tuhan.
Untuk para pembaca yang sedang dalam masa kehamilan, jangan
takut setelah membaca ceritaku yaa karena kalau selama periksa baik” aja
insyaAllah juga akan baik’ saja karna BO biasanya sudah bisa diketahui di trimester
awal.
Untuk para pejuang garis dua, teruslah berusaha dan
pasrahkan pada Tuhan.. semoga kalian segera mendapat berita bahagia!
NB: selama kehamilan kedua ku, aku konsul dengan
Dr. Putra Husada, Sp.OG di melati husada (dokter yang sama sejak kehamilan pertama)
Dan dr. Emma Enggar S. (sahabatku yg setia menerima keluhan
labilku)