Rabu, 08 Juni 2022

aku takut.. durhaka

hampir satu bulan tepat engkau merasakan sakit..

dan hampir satu bulan juga aku kehilangan kehidupan.

keluarga kecilku perlahan sadar kesibukkanku yang saat ini tidak lagi memprioritaskan mereka

aku terus dilema, fokus merawat dia atau bermain dengan putriku diusianya yang ingin sekali diperhatikan.

tapi aku memilih untuk merawatnya, ya.. dia AYAHKU. 


tak banyak hal yang bisa aku ceritakan detail, tapi yang pasti hampir sebulan ini papa tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki kanannya. 

hal yang memang tidak bisa diterima bagi sebagian orang, termasuk papa.

hal yang membuat saya sebagai anak, merasa bertanggung jawab merawat beliau 24 jam.

mulai dari memandikan, makan (ndulang), membantu kebutuhan buang air dan poops.

hal yang membuat sebagian orang 'memaksa' saya untuk menerima, dan tidak berkeluh akan hal tersebut.

hal yang membuat saya terkadang disudutkan seolah-olah anak durhaka karna kurangnya kesabaran, bahkan beliau (papa) berkata demikian.


rasanya air mata sudah tak sempat lagi menetes, dan suara untuk bercerita pun kadang tertahan.

takut.. takut dianggap durhaka walau hanya sekedar berkeluh kesah.

tapi saat ini saya ikhlas, dan siap dengan semua perkataan yang nantinya akan saya terima.

saya hanya ingin berkeluh kesah...

merawat papa memang bukan hal yang berat, jika beliau mau sedikit membantu dengan meringankan beban saya dengan mau sabar dan menerima. sayangnya beliau tidak..

merawat papa menjadi berat, karna tidak jarang kata-kata kasar yang saya terima, entah beliau sadar atau tidak ketika mengucapkan..

merawat papa menjadi begitu berat, ketika terkadang beliau dengan sengaja melakukan hal-hal yang tak perlu dilakukan..

merawat papa menjadi berat, setiap jam (literally) saya membantu beliau buang air kecil hanya karna beliau tdk berkenan memakai pampers.. dan berapa cucian yang ..tak usah dibayangkan.

merawat papa menjadi berat... ketika saya lakukan sendiri bersamaan dengan saya mengurus buah hati.


"anggap saja merawat 2 bayi" celotehan orang memang begitu.

jika boleh saya menyangkal, menurut saya itu 2 hal yang berbeda.

merawat orang tua dengan segala keinginannya dan ego-nya yang tidak mau salah, tidak akan pernah sama dengan saya merawat anak saya.

jadi merawat orangtua tidak akan pernah setara dengan merawat anak sendiri.

 

"gppa, ini ladang pahala buat kamu ganjaran menuju surga" celoteh yang lain.

IYA MEMANG, dan saya melakukannya semampu saya lillahita'ala.

walaupun jika boleh berkata, bisakah saya cari jalan lain menuju surga?


terasa berat... karna memang begitu keadaannya tanpa saya lebih-lebihkan.

ditambah saya bertanggung jawab untuk mengabdi pada suami dan bertanggung jawab penuh untuk mengurus anak saya diusia aktifnya. sekali lagi saya tekankan, tanpa bantuan siapapun termasuk ART.

 

saya tau, saya tidak sendiri.

banyak diluaran sana merasakan hal yang sama/ bahkan lebih berat. teruntuk kalian yang merasakan, we're doing it right!

terima kasih telah membaca keluh kesahku tanpa "judging"

karna memang semua sudah saya curahkan untuk merawat beliau, tenaga, pikiran, dan materi tentunya.

walaupun memang tidak akan pernah setimpal dengan apa yang beliau upayakan dalam membesarkan saya.

 

tapi, jika boleh saya memposisikan diri dengan kondisi saya juga memiliki seorang putri..

saya saat ini hanya punya keinginan untuk nantinya tidak memberatkan dan menuntut putri saya terlalu banyak.

dan apa yang saya berikan dan upayakan sebagai orang tua, rasanya itu memang sudah sebagaimana tanggung jawab saya sebagai orangtua untuk anaknya.

 

terima kasih sudah mendengarkan..