Selasa, 27 Desember 2022

menikah. emang berat?

Mungkin topik ini sedang hangat dibicarakan.. tentang 'wejangan' orang yang sudah menikah kepada para single untuk tidak terburu-buru menikah.

menikah, emang berat?

here's my POV tentang menikah (walaupun usia pernikahanku yang belum genap 5 tahun).

mungkin kata kunci pernikahan selain cinta (tentunya), adalah komunikasi dan kompromi.

berusaha untuk mengkomunikasi kan segala hal yang mungkin dirasakan, dan berkompromi untuk mendengarkan, menyelesaikan masalah dan mungkin menurunkan ego masing-masing.

dengan kondisi aku yang bisa dibilang sudah mengenal suamiku, lebih dari 4 tahun nyatanya tak membuat pernikahan itu sendiri menjadi mudah.

benar kata orang, saat menikah orang yang kita kenal bisa berubah itu nyata adanya. ternyata waktu 4 tahun untuk mengenalnya serasa percuma, ketika dalam perjalanannya seolah-olah kita menikahi orang yang berbeda.

ditambah dengan kondisi keluarga kecil kami bertambah 1 manusia kecil, tentu membuat semua pengambilan keputusan menjadi berbeda ketika penyelesaian masalah saat hanya memikirkan dua kepala manusia dewasa.

terdengar berat, lalu apa tidak bahagia?

BAHAGIA tentu! tetapi bukannya itu makna kehidupan? tidak semua hanya diisi kebahagiaan bukan?

pernikahanku bahagia, tapi bukan berarti hari-hari itu akan selalu diisi dengan senyuman bukan?!

 

dalam menjalaninya pun terkadang kita tak bisa hanya memikirkan ego diri sendiri, mungkin inilah kenapa pernikahan disebut kompleks.

keluarga? mertua? pandangan orang lain? pekerjaan? aah banyak faktor dalam setiap pengambilan keputusan didalamnya.

 mungkin kompleksitas ini yang baru aku alami di pernikahanku dengan usia 4 tahun berjalan ini.

walaupun terkadang bisa sedikit aku syukuri, karna tak sedikit orang yang aku kenal mungkin menyerah sebelum usia pernikahan ini.

jadi menikah benar-benar untuk kalian yang siap lahir, batin dan mental,  dengan pasangan yang sudah kalian kenal dengan baik dan siap untuk berkomitmen bersama.

Rabu, 08 Juni 2022

aku takut.. durhaka

hampir satu bulan tepat engkau merasakan sakit..

dan hampir satu bulan juga aku kehilangan kehidupan.

keluarga kecilku perlahan sadar kesibukkanku yang saat ini tidak lagi memprioritaskan mereka

aku terus dilema, fokus merawat dia atau bermain dengan putriku diusianya yang ingin sekali diperhatikan.

tapi aku memilih untuk merawatnya, ya.. dia AYAHKU. 


tak banyak hal yang bisa aku ceritakan detail, tapi yang pasti hampir sebulan ini papa tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki kanannya. 

hal yang memang tidak bisa diterima bagi sebagian orang, termasuk papa.

hal yang membuat saya sebagai anak, merasa bertanggung jawab merawat beliau 24 jam.

mulai dari memandikan, makan (ndulang), membantu kebutuhan buang air dan poops.

hal yang membuat sebagian orang 'memaksa' saya untuk menerima, dan tidak berkeluh akan hal tersebut.

hal yang membuat saya terkadang disudutkan seolah-olah anak durhaka karna kurangnya kesabaran, bahkan beliau (papa) berkata demikian.


rasanya air mata sudah tak sempat lagi menetes, dan suara untuk bercerita pun kadang tertahan.

takut.. takut dianggap durhaka walau hanya sekedar berkeluh kesah.

tapi saat ini saya ikhlas, dan siap dengan semua perkataan yang nantinya akan saya terima.

saya hanya ingin berkeluh kesah...

merawat papa memang bukan hal yang berat, jika beliau mau sedikit membantu dengan meringankan beban saya dengan mau sabar dan menerima. sayangnya beliau tidak..

merawat papa menjadi berat, karna tidak jarang kata-kata kasar yang saya terima, entah beliau sadar atau tidak ketika mengucapkan..

merawat papa menjadi begitu berat, ketika terkadang beliau dengan sengaja melakukan hal-hal yang tak perlu dilakukan..

merawat papa menjadi berat, setiap jam (literally) saya membantu beliau buang air kecil hanya karna beliau tdk berkenan memakai pampers.. dan berapa cucian yang ..tak usah dibayangkan.

merawat papa menjadi berat... ketika saya lakukan sendiri bersamaan dengan saya mengurus buah hati.


"anggap saja merawat 2 bayi" celotehan orang memang begitu.

jika boleh saya menyangkal, menurut saya itu 2 hal yang berbeda.

merawat orang tua dengan segala keinginannya dan ego-nya yang tidak mau salah, tidak akan pernah sama dengan saya merawat anak saya.

jadi merawat orangtua tidak akan pernah setara dengan merawat anak sendiri.

 

"gppa, ini ladang pahala buat kamu ganjaran menuju surga" celoteh yang lain.

IYA MEMANG, dan saya melakukannya semampu saya lillahita'ala.

walaupun jika boleh berkata, bisakah saya cari jalan lain menuju surga?


terasa berat... karna memang begitu keadaannya tanpa saya lebih-lebihkan.

ditambah saya bertanggung jawab untuk mengabdi pada suami dan bertanggung jawab penuh untuk mengurus anak saya diusia aktifnya. sekali lagi saya tekankan, tanpa bantuan siapapun termasuk ART.

 

saya tau, saya tidak sendiri.

banyak diluaran sana merasakan hal yang sama/ bahkan lebih berat. teruntuk kalian yang merasakan, we're doing it right!

terima kasih telah membaca keluh kesahku tanpa "judging"

karna memang semua sudah saya curahkan untuk merawat beliau, tenaga, pikiran, dan materi tentunya.

walaupun memang tidak akan pernah setimpal dengan apa yang beliau upayakan dalam membesarkan saya.

 

tapi, jika boleh saya memposisikan diri dengan kondisi saya juga memiliki seorang putri..

saya saat ini hanya punya keinginan untuk nantinya tidak memberatkan dan menuntut putri saya terlalu banyak.

dan apa yang saya berikan dan upayakan sebagai orang tua, rasanya itu memang sudah sebagaimana tanggung jawab saya sebagai orangtua untuk anaknya.

 

terima kasih sudah mendengarkan..

Selasa, 25 Januari 2022

sudut pandang dibalik istana

Hai moms or girls..

let me tell you my POV of being a housewife -

mungkin posisi ku saat ini adalah mimpi bagi sebagian wanita karier yang juga ingin dirumah saja merawat anak dan rumah dengan tenang, posisi yang nyaman memang dan sesuai kodrat wanita (menurut sebagian orang).

ceritaku bukan menunjukkan betapa tidak bersyukurnya aku di posisi ini, tapi ingin menunjukkan another POV yang kadang mungkin disepelekan. tentunya aku sangat-sangat bersyukur dengan lengkapnya keluarga kecilku, dengan kebutuhan 'sandang,pangan,papan' yang memadai dan segala 'previlige' yang kadang membuat aku sendiripun dipandang sebelah mata. Kembali lagi aku tegaskan, hanya POV ku sebagai ibu rumah tangga tanpa merendahkan/ membandingkan-nya dengan posisi ibu yang bekerja.

and let me tell you a story..

mungkin tidak semua ibu rumah tangga merasakan hal yang aku rasakan, ada kok ibu rumah tangga yang memang nyaman dirumah saja. Tapi tidak untukku..

sebagai seorang extrovert dan kebutuhan untuk bersosialisasi ku yang tinggi terkadang berada dirumah saja menjadi hal yang cukup membosankan. ditambah perasaan sebagai 'alpha-woman' yang tidak ingin bergantung, tidak ingin menunduk dan mungkin tidak terpikirkan untuk tidak bekerja saat ini, kadang menumbuhkan ego-ku untuk kembali ke kehidupan lamaku. namun tentu saja semua sudah berbeda saat ini.

kebutuhan untuk bersosialisasi yang tidak terpenuhi karna hanya berkomunikasi dengan gadis kecilku sepanjang hari, tentu tidak cukup. tidak jarang mungkin ada sedikit perasaan iri dengan wanita berkarier yang setidaknya bersosialisasi dengan cukup.

Belum lagi perasaan ingin sendiri atau 'me time' yang saat ini sering kita dengar, hanya menjadi mimpi bagi para ibu rumah tangga. Kadang kita lupa sebagai ibu rumah tangga bahwa diri ini terdiri dari jiwa & raga, fisik & mental yang perlu juga dipenuhi kebutuhannya. Tapi rasanya tidak ada kesempatan untuk memenuhi kebutuhan itu..

Bahkan terkadang sesederhana 'iri' pada suami yang bisa keluar kemana saja dan kapan saja semudah burung kenari terbang dari kandang juga membuatku sedikit kesal. Hal yang tentu tidak mudah aku lakukan untuk keluar dari rumah tanpa membuat tangis anakku.huft..

Sebagai ibu rumah tangga kukira tidak pantas rasanya aku punya goals pribadi untuk dicapai, karna semua mimpiku pasti berkaitan dengan 'keluarga'. padahal mungkin..

jika aku boleh menyombongkan diri sedikit, mungkin kesuksesan suamiku dan anakku tidak lepas dari andil tanganku (terlepas andil tangan Tuhan juga tentunya). 

menjadi ibu rumah tangga adalah bagaimana besarnya hati untuk memendam EGO. bayangkan mungkin kesuksesan yang begitu besar yang seharusnya ada dalam diri kita sendiri, kita alihkan untuk men'sukses'kan orang lain, yang dalam hal ini adalah suami dan anak.

menjadi ibu rumah tangga adalah bagaimana menjadi sutradara dan memainkan peran sekaligus, tanpa perlu dipanggil aktor.

terakhir.. menjadi ibu rumah tangga adalah tentang kita yang berhati besar & berjiwa besar.

berhati besar untuk memendam (mungkin) semua ego&mimpi, dan berjiwa besar untuk melakukan semuanya tanpa harapan imbalan apapun itu.